Sekolah Lapangan Mahasiswa Petani Tangguh 2024
Nastari bekerjasama dengan Tani dan Nelayan Center-IPB didukung oleh BRI dan Gerakan Petani Nusantara (GPN) menyelenggarakan program Sekolah Lapangan Mahasiswa Petani Tangguh pada tahun 2024. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan motivasi, pengetahuan dan pengalaman generasi muda untuk peduli dan berperan dalam dunia pertanian saat ini. Dalam kegiatan ini Nastari bersama beberapa dosen IPB berperan sebagai fasilitator baik di ruang kuliah maupun di lapangan. Sebanyak 30 orang mahasiswa dan mahasiswi IPB dari berbagai fakultas terlibat aktif selama 4 bulan.

Pelatihan Sigap di Kalimantan. 2019-2026
Pemerintah Kabupaten Berau telah menetapkan, pendekatan SiGAP (aksi inspiratif warga untuk perubahan) sebagai strategi yang dijalankan dalam mendorong pembangungan di Tingkat kampung (desa). Nastari didukung oleh YKAN telah meningkatkan kapasitas pendamping kampung sejak tahun 2019. Pendamping Sigap diharapkan dapat memfasitasi masyarakat dan pemerintah kampung dalam perencanaan tata Kelola ekonomim tata Kelola lingkungan dan tata Kelola pemerintahan. Total peserta yang telah mengikuti pelatihan hingga tahun 2026 sekitar 860 orang.

Pengembagan Hutan Herbal dan Eduwisata, Puncak Bogor. 2017-2019
Nastari berkerjasama dengan LMDH Puncak Lestari, Perhutani dan didukung oleh PT. Tirta Investama. Program ini terdiri dari perumusan disian kawasan, persemaian dan penanaman pohon, pembuatan jalur herbal (tracking), jalur sepeda keluarga, pengembangan point of interest pada titik-titik tertentu, menyempurnakan camping ground dan sarana pendukung lainnya. Dengan hutan wisata herbal ini lingkungan hutan terjaga, kualitas air terpelihara, masyarakat mendapatkan insentif ekonomi, pengunjung mendapatkan pengetahuan tentang Kesehatan selain wisata alam.

Sekolah Setu dan Eduwisata: revitalisasi dan pengembangan masyarakat berbasis situ tahun 2023
Sekolah Setu, sebagai upaya pelestarian dan pengembangan wisata Situ Citongtut. Situ ini berada di Desa Cicadas, Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Kondisi situ citongtut cukup memprihatinkan karena terjadi penyempitan serta terkontaminasi dari limbah dari beberapa pabrik yang beroperasi di sekitar Gunung Putri. Masyarakat sekitar masih memanfaatkan situ sebagai kawasan untuk bermain dan memancing meskipun airnya kotor dan banyak sampah. Nastari berkerjasama dengan PT. Tirta Investama mengembangkan program revitaliasai situ sebagai bagian dari program CSR dari PT. Tirta Investama Citeureup. Program meliputi peningkatan kasadaran masyarakat tentang pentingnya situ citongtut sebagai bagian dari system hidrologi, aksi kebersihan, pelestarian serta mengembangkan wisata air. Masyarakat yang dimotori oleh aksi pemuda local bernama Gerakan Pungut Sampah (GPS) mengkoordinir masyarakat sekitar terutama generasi muda untuk menumbuhkan kesadaran dan aksi bersama. Semua program dikemas dalam ‘Sekolah Situ’ yang dilaksanakan seminggu sekali dengan membahas tema-tema yang berhubungan dengan fungsi situ. Berapa tema antara lain, Sejarah situ, mengukur kualitas air, identifikasi flora fauna, membangun mimpi masyarakat tentan situ masa depan, mengembangkan kegiatan wisata.

Perencanaan Desa berbasis potensi untuk pengelolaan Kali Gelis, kawasan wisata Colo, Kudus. Kerjasama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara tahun 2022
Kawasan hulu Gunung Muria merupakan Kawasan penting bagi desa-desa di kecamatan Colo dan Dawe Kudus. Terdapat Sungai yang bersumber dari mata air Sendang Bunton, dan mengalir melewati 7 desa di sekitar Colo dan Dawe. Kabupaten Kudus. Kondisi kali gelis semakin memburuk setelah beroperasinya penambangan batu dan pasir (galian C). Hal ini berakibat persawahan warga terdampak banjir di musim hujan dan di beberapa bagian, warga sulit mendapatkan akses air karena tepian sungai dikeruk hingga menjadi curam dan sulit dilalui.
Untuk mendorong pemulihan dan pengelolaan kali gelis yang lebih baik, Nastari bekerjsama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara dan Djarum Foundation, pada tahun 2021 menyelenggarakan musyawarah bersama masyarakat. Agenda utama dari musyarawah ini Adalah merumuskan rencana desa (Desa Rahtawu, Ds Menawan, Ds Suco dan Ds Puyoh) berbasis pada potensi kali gelis, sebagai bagian dari sumber ekonomi dan wisata bagi masyarakat luas. Diperlukan Gambaran yang sama tentang arah pengelolaan ke empat desa yang diundang.

Sekolah Lapangan Mitigasi Bencana di Desa Cibunian dan Purwabakti, Kbupaten Bogor tahun 2021-2022
Desa Cibunian dan Purwabakti merupakan desa yang berbatasan langsung dengan kawasan taman nasional (TN Gunung Halimun Salak). Pada beberapa area kawasan ini beririsan atau tumpeng tindih dengan area budidaya pertanian milik masyarakat. Disadari bersama bahwa pola budidaya pertanian yang diterapkan merupakan tumpeng sari, artinya hak Kelola tetap berada pada TNGHS. Nastari bekerjasama Dengan YKAN dan TNGHS melakukan kegiatan untuk mendorong sistem pengelolaan lahan yang lebih baik. Lebih baik artinya lahan tetap dapat memberikan manfaat akan tetapi juga tetap terjaga sehingga tidak merusak kehidupan masyarakat. Kegiatan dilakukan dalam bentuk diskusi multi pihak tingkat desa, penyusunan rencana aksi desa, dan sekolah lapangan mitigasi bencana dilakukan dengan menerapakan praktek pertanian berkalanjutan seperti penguatan teras, pembuatan rorak atau jebakan air, pem buatan dan penggunakan pupuk organik dan pemeliharaan tanaman tanpa pestisida.

Sekolah Lapang Pertanian Padi Biointensif tahun 2022-2023
Bekerja sama dengan Koalisi Rakyat untuk kedaulatan Pangan (KRKP), Gerakan Petani Nusantara (GPN) dan Tani Nelayan Center IPB, Nastari Nusantara menyelenggarakan kegiatan Sekolah Lapang Pertanian Padi Biointensif di Kabupaten Indramayu. Kegiatan maksudkan untuk mengikatkan daya adaptasi petani dalam menghadapi dampak perubahan iklim terutama kekeringan di Desa Kendayakan, Kecamatan Trisi, Kabupaten Indramayu. Selain sekolah lapang petani juga diajak untuk mengenali kerentanan dan dampak perubahan iklim yang mereka alami, menyusun strategi adaptasi dan serangkaian pelatihan teknis budidaya biointensif. Pendekatan biointensif merupakan budidaya padi yang dilakukan dengan mengurangi input kimia seperti pada pupuk dan pestisida dan menggantikannya dengan bahan organik dan mikroba. Pada kegiatan ini digunakan sejmlah mikroba yang telah teruji mampu meningkatakan daya tahan tanaman pada kondisi kering lebih lama. Dengan pendekatan ini dari hasil uji coba petani mampu menurunkan biaya produksi hingga 20 persen dan kenaikan produksi hingga 15 persen.
